

"Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles the world. That's why we love talking each other."


Apakah WOC ini terbukti atau tidak untuk kasus quick count? ada baiknya kita tunggu (atau gak?) hasil perhitungan riil KPU.
Dari hasil pada tabel di atas, tidak ada data hasil quick count yang bersifat extreme outliers. Namun setidaknya ada empat hasil estimasi yang bersifat mild outliers, yaitu LP3ES pada Demokrat yang underestimate, LeSI pada Golkar yang underestimate, CIRUS pada PPP yang overestimate, dan LSN pada PKB yang bersifat underestimate.Posisi Golkar berdasarkan quick count diperkirakan hanya sekitar 14-15% suara. Anjlok dibandingkan pemilu 2004 sebesar 21%. Apabila koalisi kebangsaan yang kemudian melebar menjadi segitiga emas (Golkar, PDI-P, PPP) benar-benar terjadi, total suaranya masih hanya sekitar 34-35% (Golkar 14%, PDI-P 15%, dan PPP 5%). Posisi SBY, selain citra pemerintahannya yang masih terjaga, serta perolehan suara lebih dari 20%, tentu lebih leluasa untuk membangun koalisi menambah pundi-pundi suaranya. Hanya cukup dengan menggaet PKS dan PAN, SBY sudah bisa mengalahkan tipis calon presiden siapapun yang diusungkan dari koalisi kebangsaan dengan suara sekitar 36%.
Untuk partai pemula yang cukup mendapatkan suara seperti Hanura dan Gerindra, apabila ingin bersikap “oportunis”, keputusan merapat ke kubu SBY mungkin lebih baik dibandingkan ke kubu Megawati. Namun sayangnya latar belakang militer yang mungkin tidak “sehaluan” bisa saja akhirnya Hanura atau Gerindra lebih memilih merapat ke kubu Mega. Selain itu, masih ada suara PKB yang harus diperebutkan. Feeling saya, PKB Muhaimin akan merapat ke kubu SBY. Mengingat dalam pemerintahan SBY-lah Muhaimin memenangkan peradilan dalam sengketa-nya dengan Gus Dur.
Tapi tentunya analisisnya tak semudah apa yang akan terjadi. Keputusan seseorang dalam memilih bisa jadi berbeda antara partai politik dan capresnya. Mungkin saja, seseorang memilih Golkar, namun presidennya tetap SBY. Dan juga, apabila dikompetisikan individual, tentunya SBY versus Mega akan kelihatan jelas mana yang memiliki kapabilitas dan mana yang tidak. Jadi kondisi terburuknya, seseorang bisa saja memilih PDI-P, namun belum tentu memilih Mega sebagai presiden. Kemungkinan-kemungkinan ini bisa cukup banyak, layaknya mengolah probabilitas statistik melalui permutasi dan kombinasi.
Pendapat pribadi saya, sesungguhnya bola sudah di tangan SBY bersama Demokrat-nya, tinggal digelindingkan saja dalam tipe permainan apa yang diinginkan. Konstelasi politik saat ini sudah berubah. Saatnya Demokrat menjadi partai teratas dalam percaturan politik “sementara” negeri ini, dan mampu mengalahkan Golkar yang proses kaderisasinya sudah berlangsung lama dibanding Demokrat. Semoga saja ketika SBY terpilih kembali menjadi Presiden, tak lupa mempersiapkan kader penerus, dan juga menutup pemerintahannya dengan manis. Demi nasib Demokrat ke depan. Karena bagaimanapun dalam politik tak selamanya berada di atas, dan kadang harus menerima kenyataan, meskipun pahit. Seperti Golkar yang suaranya terpuruk, dan JK pun akan ditujuk hidung atas keterpurukan itu.
Apakah itu akan terjadi? Kita lihat saja....
Selagi masih ada waktu untuk berfikir, apabila ada yang mau tahu lebih banyak tentang Pemilu di Indonesia, bisa lihat di sini.
Walaupun secara keseluruhan kinerja ekspor dalam tahun 2008 mengalami peningkatan dari tahun 2007, namun pada akhir tahun 2008 tren penurunan kinerja ekspor mulai terlihat. Sebagaimana dapat dilihat pada tabel diatas, persentase perubahan ekspor dari November 2008 ke Desember 2008 mengalami penurunan di seluruh komoditi terutama pada Komoditi Hasil Minyak sebesar -58.19%. Sedangkan pada Komoditi Non Migas penurunan ekspor terjadi sebesar -8.84%. Penurunan kinerja ekspor tersebut berdampak pada menurunnya permintaan akan Rupiah. Sehingga apabila kinerja ekspor tidak membaik, maka nilai tukar Rupiah diprediksi akan terus mengalami pelemahan. Chain effect yang secara logis dapat terjadi selain melemahnya Rupiah adalah meningkatnya pengangguran. Hal ini dikarenakan banyak produsen atau pabrik yang mengalami over production sebagai akibat dari penurunan permintaan dari abroad.
Poin penting yang dapat didiskusikan adalah menurunnya kinerja ekspor juga mengakibatkan penurunan permintaan akan USD. Sehingga seharusnya penurunan kinerja ekspor tidak berdampak signifikan pada melemahnya Rupiah. Namun demikian hal ini baru dapat dikonfirmasi apabila ada hasil regresi pada data terkait.
Penurunan Arus Modal Masuk
Krisis perekonomian global mengakibatkan aliran dana pada emerging markets seperti Indonesia mengalami penurunan. Hal ini dikarenakan investor mencari tempat yang aman untuk memarkir dana, sehingga negara dengan tingkat resiko tinggi seperti Indonesia mulai ditinggalkan. Fakta yang terjadi kemudian adalah investor tetap memarkir dananya di US treasury bonds walaupun yield-nya negatif. Fenomena ini disebut flight to quality. Berikut data balance of Payment Indonesia yang dirilis oleh BI.
My blog is worth $6,774.48.
How much is your blog worth?